Pernah enggak sih kalian beli buah atau sayur, terus baru beberapa hari sudah layu atau busuk? Itu tandanya bahan pangan itu gampang rusak. Kenapa bisa begitu?
Ternyata, bahan pangan itu terdiri dari berbagai macam zat, seperti air, protein, karbohidrat, lemak, vitamin, serat, dan mineral. Kandungan-kandungan ini ternyata juga memengaruhi seberapa cepat bahan pangan itu bisa rusak. Kerusakan yang terjadi bisa bermacam-macam, mulai dari kerusakan fisik (misalnya memar), biologis (karena mikroorganisme), sampai kimiawi. Kalau sudah rusak, kualitas dan keamanannya pasti berkurang.
Supaya bahan pangan awet, kita harus pintar-pintar menyimpannya. Ada beberapa jenis bahan pangan berdasarkan seberapa cepat mereka rusak:
- Bahan pangan yang enggak gampang rusak: Ini bahan pangan yang bisa disimpan lama di suhu ruangan, contohnya beras atau kacang-kacangan kering.
- Bahan pangan yang agak gampang rusak: Bahan ini cuma bisa disimpan dalam waktu terbatas, seperti bawang bombai dan umbi-umbian.
- Bahan pangan yang gampang banget rusak: Bahan ini cepat busuk kalau disimpan tanpa perlakuan khusus, contohnya daging, ikan, susu, buah yang matang, dan sayuran.
- Pertumbuhan mikroba, terutama bakteri, kapang (jamur), dan khamir.
- Aktivitas enzim dalam bahan pangan itu sendiri.
- Serangga dan parasit.
- Suhu penyimpanan, termasuk panas, dingin, udara, dan sinar matahari.
Mengolah Pangan Nabati Biar Lebih Awet dan Beragam
Pengolahan produk pangan nabati adalah proses mengubah bahan pangan nabati menjadi makanan atau minuman baru. Tujuannya jelas, yaitu memperpanjang masa simpan, meningkatkan harga jual, dan menambah variasi produk.
Proses pengolahannya punya beberapa tahapan, lho:
- Perencanaan: Mikirin mau bikin apa dan bahan apa saja yang diperlukan.
- Pelaksanaan/Pembuatan: Bikin produknya sesuai dengan rencana.
- Penyajian/Pengemasan: Mengemas produk biar terlihat menarik dan tetap aman.
- Evaluasi: Mencicipi dan menilai produk yang sudah jadi untuk perbaikan selanjutnya.
Dua cara utama dalam pengolahan pangan nabati:
- Pengolahan tanpa pengawet: Contohnya gudeg, combro, wajik ketan, getuk, dan bakpia.
- Pengolahan dengan pengawet: Metode ini bertujuan untuk memperpanjang umur makanan. Contohnya manisan buah, sirup buah, keripik sayur, acar, dodol, kue kacang, dan tapai.
Hasil olahan ini sering kali jadi makanan khas daerah, yaitu makanan yang biasa dimakan dan berasal dari suatu daerah, yang mencerminkan karakter masyarakatnya.
Daftar Pustaka
- Astawan, M. & Astawan, M. W. (1991). Teknologi Pengolahan Pangan Nabati Tepat Guna. CV Akademika Pressindo.
- Effendi, Supli. (2016). Teknologi Pengolahan dan Pengawetan Pangan. Alfabeta.
- Muchtadi, Tien R. (2008). Pengetahuan Bahan Pangan Nabati. Universitas Terbuka.
- Nugraheni, Mutiara. (2016). Pengetahuan Bahan Pangan Nabati. Plantaxia.
- Winarno, F. G. (1993). Pangan: Gizi, Teknologi dan Konsumen. Gramedia Pustaka Utama.



